SYMBOL BID ASK SPREAD
EURUSD 1.22637 1.22646 0.90
USDJPY 106.463 106.471 0.80
GBPUSD 1.40134 1.40144 1.00
XAUUSD 1314.030 1314.226 19.60
US Oil 63.638 63.700 62.00
HKH 31933 31960 27.00
JPN225 21490 21510 20.00
US30 24769 24783 14.00
NQ.GOOG 1097.12 1097.96 84.00
HK.THL (0700) 475.00 475.60 60.00


Tampilkan postingan dengan label Bursa Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bursa Asia. Tampilkan semua postingan

Investor Cenderung Menunggu Hasil Pertemuan China-Amerika Terkait Hubungan Perdagangan Bilateral Kedua Negara

Bursa saham untuk wilayah Asia pada hari Kamis (5/3/2018) alami penurunan, para pelaku pasar terlihat lebih cenderung untuk “wait and see” terhadap hasil pertemuan antara Amerika-China dalam membicarakan negoisasi terkait perdagangan bilateral kedua negara. Disisi lain nilai tukar dollar Amerika terlihat belum alami pemulihan dari penurunan yang terjadi sejak dirilisnya hasil pertemuan Federal Reserve Amerika pada dini hari tadi. Walaupun alami penurunan nilai tukar dollar Amerika masih memiliki peluang alami kenaikan. Terkait pertemuan antara Amerika-China, untuk sementara ini kabinet kerja Trump telah sedikit berikan kelonggaran dengan mengendurkan tekanan terhadap sejumlah perusahaan Amerika yang sempat tidak diperbolehkan lakukan penjualan peralatan komunikasi di Amerika Serikat. Negoisasi antara Menteri Keuangan Amerika Steven Mnuchin dan wakil Perdana Menteri China Liu He kesimpulannya akan diumumkan hari Kamis ini. Walaupun demikian, ada indikasi bahwa pihak utusan dari Amerika tersebut hanya berikan sedikit kelonggaran dalam negoisasi yang saat ini masih berlangsung, kesimpulan tersebut diperoleh karena pihak delegasi dari Amerika tersebut membatasi kunjungan mereka ke China paling lambat harus sudah meninggalkan China pada hari Jum’at besok, sehingga dengan demikian peluang-peluang negoisasi menjadi sempit. Indek MSCI Asia-Pacific yang merupakan indek acuan pergerakan saham wilayah Asia Pacific diluar Jepang terlihat alami penurunan sebesar 0,5 persen pada hari ini, sedangkan indek acuan saham Korea Selatan terlihat alami penurunan sebesar 0,4 persen. Indek acuan saham “blue-Chips” China alami penurunan sebesar 0,1 persen dan hanya berjarak tidak terlalu jauh dari level harga terendahnya dalam delapan bulan terjadi pada April silam. Indek Nikkei Jepang untuk hari ini tutup karena adanya hari libur nasional. Sedangkan disisi lain, indek acuan saham berjangka AMerika E-mini S&P 500 terlihat cenderung bergerak lambat. Sebelumnya, pada Rabu kemarin Wall Street terlihat alami penurunan. Adanya pengetatan terhadap penjualan perusahaan-perusahaan produsen peralatan telekomunikasi China di Amerika membuat para pelaku pasar khawatir akan terjadinya perang perdagangan antara kedua negara. Pada Rabu kemarin, Dow Jones alami penurunan sebesar 0,72 persen, S&P 500 alami penurunan sebesar 0,72 persen dan Nasdaq turun 0,42 persen. Terkait pertemuan Fed yang berlangsung hari Selasa dan Rabu minggu ini, pada akhirnya Fed memutuskan untuk tetap pertahankan tingkat suku bunga acuan tanapa adanya kenaikan, hasil tersebut sesuai yang diperkirakan oleh para pelaku pasar. Walaupun demikian, ada peluang yang cukup besar tingkat suku bunga acuan akan alami kenaikan pada pertemuan Fed selanjutnya, hal tersebut didukung oleh pernyataan Fed yang menyatakan bahwa tingkat inflasi saat ini telah mendekati level terget dari FED. Nilai tukar euro terlihat mulai dapat bertahan dari tekanan turun akibat penguatan dollar Amerika. Walaupun pada Rabu kemarin nilai tukar euro ditutup pada level harga $1,1915 yang mana nilai tersebut menembus level harga terendah euro dalam 15 minggu terakhir pada $1,1936. Saat ini nilai tukar euro mulai sedikit alami kenaikan dan berada pada level harga $1,2001. Nilai tukar dollar Amerika sebelum dirilisnya kesimpulan hasil pertemuan FED sempat menyentuh level harga tertingginya dalam tiga bulan terhadap Yen pada 110,05. Walaupun kemudian alami penurunan setelah dirilisnya hasil pertemuan FED. Saat ini nilai tukar dollar terhadap Yen berada pada level 109,64 Yen. Secara keseluruhan indek nilai tukar dollar Amerika yang mengukur pergerakan dollar Amerika terhadap enam mata uang utama dunia lainnya berada pada level 92,542, mendekati level harga tertinggi sebelumnya yang terbentuk pada Desember tahun lalu yaitu 92,834.

http://soegeefx.com/register.php?r=1377&c=1&b=11
Forex Mini OnlineOne Stop TradingTrading Only $100 | Lot Start 0.1 Lot ,
Spread mulai 0.6 pip | Instan Referal reward
Broker Mini Legal Bappebti Register KLik

Bursa Asia Hari Ini Merosot

Pasar saham di kawasan mengekor bursa Amerika Serikat yang merunduk setelah Presiden AS meneken memorandum tarif anti-produk China yang dikhawatirkan akan mengggangu pertumbuhan ekonomi global.

http://soegeefx.com/register.php?r=1377&c=1&b=11Pagi ini, indek Topix dan Nikkei 225 di Jepang merosot masing-masing sampai 2,81% dan 3,54%. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga terkoreks 3,67%. 

Indeks Kospi di Korea Selatan turun 2,29%, sedangkan indeks ASX 200 di Australia turun 1,93%. 
–– ADVERTISEMENT ––
Kemarin, Presiden AS Donald Trump menandatangani memorandum penerapan tarif produk China yang bernilai capai US$ 60 miliar. Trump memberi waktu 60 hari waktu konsultasi bagi DPR, pelaku usaha, dan Beijing untuk merespons memorandum ini.

Forex Mini Online
One Stop Trading
Trading Only $100 | Lot Start 0.1 Lot ,
Spread mulai 0.6 pip | Instan Referal reward
Broker Mini Legal Bappebti

Register KLik 


Pasar yang khawatir juga mengumpulkan aset safe haven. Yen pagi ini menguat tajam dan masuk ke level USD/JPY 104,89. Sedangkan harga emas di pasar spot menguat ke level US$ 1.336,67, berbanding kemarin US$ 1.329,03

Kemarin, bursa AS juga terkoreksi dalam akibat kekhawatiran pasar The Dow Jones Industrial Average misalnya sampai kehilangan 724,42 poin atau 2,93%.



Bursa Asia Menguat


Mengutip Bloomberg, indeks Nikkei 225 naik 0,30% pada pukul 09.46 waktu Tokyo. Indeks Kospi juga menguat 0,70%. Namun, indeks Australia S&P/ASX 200 dibuka turun 0,30%.

Kecemasan pasar terhadap keagresifan pengetatan moneter di AS agak berkurang. Sebab, The Fed tidak mengarah pada kenaikan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun ini, seperti yang diperkirakan sebagian pelaku pasar. Walaupun, diproyeksi akan ada kenaikan yang lebih tinggi pada 2019 dan 2020, karena pertimbangan peningkatan prospek ekonomi.
http://soegeefx.com/register.php?r=1377&c=1&b=11Meski demikian, masih ada kekhawatiran terkait ancaman perang dagang. Sebab, Kamis, Presiden Donald Trump akan mengumumkan penarikan pajak sekitar US$ 50 miliar terhadap China atas pelanggaran hak kekayaan intelektual. 

"Secara umum hasil pertemuan (The Fed) sedikit dovish dibandingkan dengan perkiraan sebagian besar pelaku pasar," kata Charlie Ripley, ahli strategi investasi Allianz Investment Management, seperti dilansir Bloomberg. 

Sementara, di pasar AS, ketiga indeks di Wall Street ditutup melemah tipis, setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah melesat, setelah persediaan di Amerika Serikat secara mengejutkan turun untuk pertama kali dalam sebulan. Apalagi, masih ada kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah. 

Harga emas spot juga menguat, karena kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini dinilai tidak seagresif perkiraan awal.


Bursa Asia Stagnan

Bursa Asia dibuka hampir stagnan pada perdagangan Rabu (21/3). Pelaku pasar memilih wait and see mengantisipasi pertemuan dua hari pejabat FOMC yang membahas suku bunga dan kebijakan moneter.

Mengutip Reuters, Rabu pukul 08.10 WIB, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang, hampir tidak beranjak setelah empat hari berturut-turut melorot. Sementara, indeks Australia S&P/ASX 200 dibuka naik tipis 0,06%, dan Kospi menguat 0,20%. Adapun, indeks Nikkei N225 ditutup untuk liburan domestik.

Investor berhati-hati masuk ke pasar keuangan, karena menunggu pernyataan dari The Federal Reserves terkait peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini. Di sisi lain, mata uang negara pengekspor diguncang oleh ketakutan terhadap perang dagang.

Saham global reli pada tahun lalu, namun tahun ini dimulai dengan tren yang melemah, karena kombinasi risiko kenaikan suku bunga yang lebih cepat di Amerika Serikat dan kekhawatiran terhadap proteksionisme. "Pecahnya tren bullish mulai terlihat.

Ancaman perang dagang kembali ke puncak risiko, diikuti oleh inflasi dan perlambatan pertumbuhan global," kata Michael Hartnett, kepala strategi investasi di BofAML, seperti dilansir Reuters, Rabu. "Investor belum bertindak dalam ketakutan ini. Tingkat bunga dan laporan pendapatan menjaga pergerakan bullish," lanjutnya.
http://soegeefx.com/register.php?r=1377&c=1&b=11

Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan akan mengumumkan bea masuk barang China ingga US$ 60 juta pada Jumat. Langkah tersebut dilakukan setelah Trump memberlakukan tarif impor baja dan aluminium awal bulan ini.

 Investor khawatir tindakan Trump bisa meningkat menjadi perang dagang total jika China dan negara-negara lain melakukan tindakan balasan atau tindakan yang lebih keras, yang mengancam pertumbuhan global. "Risiko akan tampak bahwa sentimen yang memburuk terhadap pasar China dapat membuat dollar Australia terekspos, mengingat kurangnya dukungan imbal hasil," kata Hartnett. Sebagai gambaran, yield AS cenderung naik di atas Australia pada pekan ini.

Dari pasar komoditas, harga minyak mentah menguat. Investor waspada terhadap meningkatnya pasokan minyak mentah, meskipun ketegangan antara Arab Saudi dan Iran memberikan beberapa dukungan.

Forex Mini OnlineOne Stop TradingTrading Only $100 | Lot Start 0.1 Lot ,
Spread mulai 0.6 pip | Instan Referal reward
Broker Mini Legal Bappebti

Register KLik

Awan Mendung Kembali Membayangi Pergerakan Bursa Saham Asia

Saham alami penurunan dan nilai tukar dollar Amerika juga terlihat alami penurunan pada hari Rabu (3/14/2018) ini. Penurunan tersebut di sebabkan karena para investor menaruh kekhawatiran terhadap kebijakan tarif Amerika akan berikan pengaruh besar bagi ekspor China ke Amerika, yang akan membuat pertumbuhan ekonomi Asia pada awal 2018 yang terlihat cukup solid akan menemui hambatan.
Kekhawatiran para investor untuk menaruh investasi mereka pada asset-asset beresiko juga dipicu oleh tindakan Presiden Trump yang akan memecat sekertaris negara. Kebijakan tersebut bagi para investor menjadi simbol akan ketidak pastian terhadap kebijakan Trump kedepannya.
Selain di bursa Asia, penurunan juga terlihat pada indek berjangka diluar Asia. S&P E-Mini futures ESc1 terlihat alami penurunan sebesar 0,1 persen sedangkan FTSE futures FFIc1 alami penurunan sebesar 0,3 persen.
Indek acuan saham Asia di luar Jepang, indek MSCI Asia-Pacific terlihat alami penurunan sebesar 0,7 persen, alami penurunan dari level tertingginya dalam 1,5 bulan terakhir yang terbentuk pada Selasa kemarin, dengan sektor teknologi menjadi sektor yang alami penurunan paling besar.
Indek acuan saham Jepang Nikkei .N225 alami penurunan sebesar 0,8 persen. Indek acuan saham China indek SSE Composite .SSEC dan indek saham blue-chips CSI 300 .CSI300 alami penurunan sebesar 0,5 persen.
Indek MSCI Asia diluar Jepang untuk sektor teknologi alami penurunan sebesar 0,5 persen akibat kebijakan tarif Trump diperkirakan akan menyebabkan sektor teknologi, elektronik dan telekomunikasi alami kenaikan biaya hingga sebesar $60 milliar.
http://soegeefx.com/register.php?r=1377&c=1&b=11
Saham-saham perusahaan raksasa teknologi asia seperti LG DIsplay, Tencent Holdings, dan Taiwan Semiconductor semuanya alami penurunan lebih dari 1 persen,
Investor juga melihat bahwa kebijakan Tarif Trump akan memaksa tiap-tiap negara menerapkan perlindungan dengan menggunakan kebijakan moneter untuk mengatur nilai tukar mata uang mereka guna meminimalisir efek negatif kebijakan tarif Trump.
Secara keseluruhan untuk awal tahun ini, kondisi ekonomi Asia dapat dikatakan dalam kondisi prima. Kondisi tersebut dapat terlihat dari China yang alami ekpansi output industrinya. Investasi Fixed Asset juga terlihat dapat lampaui perkiraan dan data penjualan retail juga terlihat alami peningkatan pada Desember tahun lalu.
Selain dipengaruhi oleh banyak kekhawatiran, penurunan saham di Asia pada hari ini juga terpengaruh oleh penurunan yang terjadi pada Wall street dimalam sebelumnya, dimana Dow alami penurunan sebesar 0,7 persen, S&P 500 alami penurunan sebesar 0,6 persen dan Nasdaq Composite turun 1 persen,
Sentimen jual saham yang terjadi pada malam hari kemarin di Wall Street terjadi setelah dirilisnya berita yang menyatakan bahwa Trump lakukan pemecatan terhadap Tillerson yang digantikan oleh Direktur CIA Mike Pompeo.
Kebijakan tersebut keluar setelah sebelumnya penasehat ekonomi Gedung Putih Gary Cohn lakukan pengunduran diri.
Sejak Trump menduduki kursi sebagai orang nomor satu di Amerika pada 2017 silam, kurang lebih sudah ada sebanyak 35 pejabat senior pemerintahan yang keluar dari jabatannya, jumlah tersebut sudah termasuk Tillerson.
Nilai tukar euro pada malam hari kemarin alami kenaikan mencapai level tertinggi dalam 1 bulan pada $1,2446, sedangkan Pound terlihat alami kenaikan walaupun tidak sebesar euro menjadi berada pada level harga $1,3989.
Untuk sektor komoditi, harga acuan minyak mentah terlihat bergerak mix. crude oil Amerika CLcv1 naik 2 sen pada $60,73 sedangkan Brent LCOc1 alami penurunan 10 sen menjadi $64,54.
Harga spot emas sentuh level harga $1.327,82 per ounce.

Bursa Asia Hari Ini turun

Bursa saham kawasan Asia kompak menurun di pertengahan pekan ini. Rabu (14/3) pukul 8.19 WIB, indeks Nikkei turun 0,66% ke 21.821. Indeks Hang Seng turun 0,88% ke 31.321. Indeks Taiwx pun melorot 0,80% ke 11.051. Indeks Kopsi turun 0,66% ke 2.478. Straits Times turun 0,71% ke 3.528. Di Australia, indeks ASX 200 turun 0,76% ke 5.929. Salah satu sentimen negatif pasar hari ini adalah pemecatan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson. "Mundurnya Tillerson menimbulkan kekhawatiran bahwa langkah proteksionisme AS akan semakin besar," ungkap analis ANZ Research seperti dikutip CNBC. Reuters melaporkan, Trump membidik pengenaan tarif impor hingga US$ 60 miliar dari China. AS akan menargetkan sektor teknologi dan telekomunikasi untuk menutup sebagian besar target. Menurut sumber Reuters, ada 100 produk China yang rencananya akan kena tarif impor di AS. Berikut agenda ekonomi Asia hari ini: - Penjualan ritel, produksi industri, dan investasi aset tetap China - Indeks harga grosir India - Rilis notulen rapat Bank of Japan

http://soegeefx.com/register.php?r=1377&c=1&b=11

Bursa Asia menguat

Bursa saham Asia bersemangat menyambut awal pekan ini. Pasar saham Benua Kuning kompak menghijau dengan kenaikan tertinggi pada indeks Nikkei. Senin (12/3), indeks Nikkei 225 melonjak 2,16% ke 21.932. Hang Seng menguat 1,49% ke 31.448. Taiex menguat 1,10% ke 10.984. Indeks Kospi naik 0,94% ke 2.482. ASX 200 menanjak 0,76% ke 6.008 dan Straits Times menguat 1,43% ke 1.853. Sinyal perbaikan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) akhir pekan lalu turut menceriakan bursa Asia. Penambahan tenaga kerja non pertanian pada bulan Februari mencapai 313.000 orang, lebih tinggi ketimbang prediksi pasa survei Reuters di angka 200.000 orang. Berikut data ekonomi yang akan rilis di Asia hari ini: - Penjualan ritel Singapura - Neraca perdagangan India - CPI Februari India 
http://soegeefx.com/register.php?r=1377&c=1&b=11